Feeds:
Pos
Komentar

Mungkin ini yang dinamakan sebuah perubahan, kadang sebuah perubahan diawali dari kesepakatan, perubahan diawali dari niat, perubahan dimulai dengan stagnasi. Ya itulah mungkin yang saya bisa simpulkan dari kondisi perekonomian perbankan dunia. Entah saya tidak memahami definisi dari emiten, faktor2 yang membuat harga saham mengalami fluktuasi, dan kehidupan dunia ekonomi yang “maya”. Dan perbankan termasuk dalam ranah yang “maya” tersebut.

Dengan jatuhnya bursa saham Amerika yang mungkin salah satunya disebabkan oleh kredit perumahan Amerika yang mengalami kemacetan. Ya lantas mengapa praktisi perbankan kita begitu panic. Padalah hanya 20 persen dari sektor perbankan yang memiliki kontribusi dalam perekonomian bangsa ini. Saya mengambil kacamata dari perkiraan dampak ekonomi riil Indonesia yang “belum” terkena dampaknya. Mengapa saya mengabil kata “belum”? karena pagi ini harga dollar Amerika terhadap rupiah, 1 dollar untuk 10.350 rupiah, dari angka itu saja kita dapat memprediksi gonjang ganjing seperti apa yang akan berpengaruh pada kondisi perekonomian riil Indonesia. Ya saya berkaca pada kejadian-kejadian yang hampir sama dengan yang lalu.

Lantas mengapa pemerintah Amerika tidak menaikkan harga minyak dengan melakukan intervensi pada perusahaan minyak dunia yang hampir semuanya dimilikinya? Atau menarik semua saham Amerika di Indonesia? Dan lebih berkonsetrasi terhadap pemulihan kondisi perbankan domestiknya? Hal ini disebabkan Amerika sedang carut marut terhadap kondisi perekonomiannya, dan saat ini pula pemilihan presiden sedang berlangsung. Wajar saja setelah 25 tahun Amerika membuat sebuah sistem perekonomian dengan perkembangan sektor perbankan mencapai 80 persen dibandingan sektor riil yang hanya 20 persen. Ketika system perbankan amerika tidak berjalan mulus, mesin perekonomian amerika pun lantas mogok. Kemudian sekarang Amerika sedang membutuhkan kestabilan ekonominya segera, oleh karena itu tidak tertutup kemungkinan Amerika tidak akan menarik semua sahamnya di negera-negara lain termasuk Indonesia, karena Indonesia salah satu negara yang dapat memutar aliran uangnya dengan cepat, hal ini justru yang seharusnya membuat Indonesia sebisanya dapat bertahan dalam badai resesi ekonomi amerika. Oleh karena itu beberapa bank dalam dalam negeri mulai memberlakukan jaminan akan investasi dari pihak asing agar lebih memantapkan investasi dalam perdagangan Indonesia.

Lantas ini adalah awal sebuah perubahan kepada kehidupan ekonomi dunia yang baru?

Namun perubahan menuju manakah? apakah yang berada dibelakang agenda badai ekonomi ini?

Saya masih yakin ada tangan-tangan yang tidak terlihat muncul dipermukaan namun dampaknya masih terasa sampai ke permukaan.

(Saya minta kritik, masukan yang signifikan atas tulisan ini….terimakasih…)

Lebaran, ya saat-saat itulah uang berputar dalam pusaran yang sangat besar, ya sebuah ritus perputaran uang sebagai kompensasi jerih payah bekerja di kota besar, menyenangkan keluarga, memeprkokoh eksistensi kesuksesan seorang perantau yang mengadu nasib di perkotaan. Puasa kita jauh dari asketis, maklumlah kita hidup di kota, dan semua suasana pun dibuat hal puasa yang begitu ritual, dan hanya sebatas itu…..saya pun masih saja menunggu kompensasi, sebuah surat pendek saja, dari sang pencipta, yaitu satu titik pemaknaan dalam puasa tahun ini….namun saya akhirnya mendapat sebuah realitas, tidak saat-saat puasa,-maklum puasa sama halnya dengan rutinitas biasa saja-, namun saat perjalanan pulang mudik.

Bagi saya, mudik lebaran tanpa sebuah perjalanan yang mengesalkan, melelahkan, kuranglah lengkap. Ya sebuha perjalan mudik ke luar kota, disaat itulah saya melihat realitas, benar-benar realitas, pada khususnya mungkin hasil komparasi dengan realitas kota. Setelah berisitirahat di yogya, kemudian saya melanjutkan perjalanan menuju bandung setelah berlebaran di Surabaya, jalan menuju jawa barat, terberitakan macet total, hingga akhirnya kami memilih untuk sedikit memutar agak jauh melewati daerah paling selatan jawa tengah, sayang saya lupa nama kotanya. Ruas jalan hanya cukup untuk dua mobil dengan arah arus yang berbeda, suasana kering, sebelah kanan pemukiman penduduk yang sangat khas dengan rumah adat jawa, mungkin mirip dengan rumah joglo. Sebelah kanan padang kering, dengan rerumputan yang malas berjuang untuk hidup karena tidak ada sedikitpun warna hijau menghiasinya. Ya retakan bahkan patahan pada pesawahan, mungkin lebih tepat saya katakan menjadi ladang yang hampir mati. Dan saya yakin,alih-alih untuk melihat masa depan anaknya, untuk besok makan apa, sumbernya ya di depan rumahnya itu, ladang tanpa harapan, tandus. Tak ingin terhanyut dalam perasaan melakolis, akhirnya saya mengalihkan pandangan ke pemukiman, hmm…..tampak pengaruh kota pun akhirnya sampai pada pelosok daerah itu, minimal dari cara berpakaiannyalah, dan satu lagi sinyal HP saya penuh,,,,

Yang menarik perhatian adalah anak-anak lecil yang melambaikan tangan karena mungki merasa senang melihat mobil bagus melintasi kampungnya. Namun aku hanya melihat dari kaca jendela mobil. Senyum polosnya terlihat sekali belum pernah termakan sakit hati betapa beratnya hidup ini yang semakin jauh dari kesejahteraan, matanya memancarkan cahaya polos yang begitu tulus, tak tahu mereka sakitnya ketulusan dibalas dengan kekejaman bajingan, ya itulah kesan yang saya tangkap dari sosok anak kecil polos itu.

Lantas aku bertanya dalam hati, apakah anak-anak polos itu punya harapan akan masa depan?

Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Namun menjadi masalah ketika perubahan itu tidak membawa kita pada kondisi yang berbeda dari titik acuannya, realita hari ini bercerita bahwa perubahan tidak membawa signifikansi pada kondisi yang jauh lebih baik. Dalam kehidupan manusia, selalu saja ada sebuah perayaan, dengan mengembalikan pada makna perayaan itu sendiri, perayaan sengaja diadakan karena telah tercapainya suatu hal prestatif. Namun berbeda dengan pesta demokrasi atau PEMILU, tidak ada signifikansi politik dalam beberapa tahun belakangan ini malahan yang terjadi adalah sebuah kebuntuan politik. Adalah sebuah kebuntuan politik, kebuntuan partisipasi politik baik secara individu ataupun kolektif dalam menyelesaikan masalah bangsa.

Sudah banyak cerita, dan seharusnya kita pun layaknya belajar dari cerita, parpol turunan atau dalam kemasan yang rada ciamik, yang sengaja menjaring massa dengan menyusup dalam kehidupan kampus. Dari jajaran mahasiswa sampai rektor pun akhirnya harus menentukan sikap politiknya. Banyak masyarakat yang bertanya, mengapa perguruan tinggi begitu alergi soal politik. Bukankah kampanye merupakan bagian pendidikan politik masyarakat kampus, agar dosen, mahasiswa, dan karyawan, tidak salah dalam menentukan pilihan.

Aneka pertanyaan itu pun ada benarnya pula untuk kita jawab. Tapi perlu diingat disini, bahwa persoalan politik bukan hanya terkait dengan kampanye parpol. Masih banyak yang bisa dilakukan untuk “melek” politik. Apalagi jika kita memakai definisi politik itu berujung pada soal kampanye dan pemilu, namun lebih menyangkut pada kepedulian kita semua terhadap kondisi bangsa.

Dan oleh karena persoalan yang begitu beragam itu pula, maka tidak bisa serta merta mengatakan bahwa kita tidak peduli terhadap kondisi bangsa sekarang. Dan jika hal tersebut dijadikan kesimpulan maka akan melahirkan definisi politik menjadi makin sempit.

Diperkuat dengan adanya UU12/2003 tentang Pemilu yang berkait pelaksanaan kampanye (Pasal 74 huruf g) jelas dinyatakan: dalam kampanye pemilu dilarang menggunakan fasilitas pemerintahan, tempat ibadah, dan tempat pendidikan. Dalam hal ini, perguruan tinggi semestinya memiliki kewajiban yang lebih besar untuk menegakkan dan melaksanakan produk hukum, tanpa harus mencari pembenaran guna mengizinkan parpol untuk melakukan kampanye dalam kampus.

Ada beberapa pemikiran mengapa kampus sebagai wahana pendidikan harus menjaga netralitasnya dari permainan politik praktis. Pertama, pada hakikatnya pendidikan politik yang harus diluruskan dari pengertian pendidikan politik dalam masyarakat itu sendiri. Opini yang tersebar dalam masyarakat, bahwa pendidikan politik adalah lebih pada sebuah upaya mengenalkan peran individu dalam berpartisipasi di pemerintahan, partai politik dan birokrasi. Pandangan itu tidak salah, namun menjadi berarti sempit jika hanya diartikan sebatas itu. Menurut saya hakikat pendidikan politik adalah proses pendewasaan dan pencerdasan invidu atau kolektif dalam menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa sesuai peran dan otoritasnya masing-masing.

Kedua, perguruan tinggi tidak dapat menjamin manakala diadakan kampanye politik di dalam kampus, dalam bentuk yang dialogis sekalipun, massa kampus akan steril dari massa pendukung partai politik. Yang dikhawatirkan adalah masuknya segala macam bentuk atribut parpol sehingga dapat mengganggu kehidupan budaya kampus yang majemuk.

Dua hal diatas hampir terkesan sepenuhnya subjektif akan boleh tidaknya parpol mengadakan kampanye di dalam kampus. Tetapi paling tidak subjektivitas pemikiran ini dapat diterima dalam ruang lingkup kampanye, karena sebenarnya kegiatan kampanye selalu mengedepankan subjektifitas ketimbang objektifitas.

Desak Suarti, seorang pengrajin perak dari Gianyar Bali. Bali merupakan tempat yang eksotis dengan segalam macam keindahan alam, cultural goods-nya termasuk cinderamatanya. senang sumringah hasil kerajinannya dijual kepada konsumen asing, namun hanya sampai sebatas itu. mungkin saja dia banting setir menjadi tukang rental jetski kalau penjualannya tidak naik-naik, namun faktanya lebih dari itu, dia beberapa hari keesokannya setelah menikmati hasil kerajinannya, dia didatangi pihak Trade Related Intellectual Property Rights (TRIPs) atas pelanggaran paten kerajinannya. mungkin ketika mafia berjas hitam dan berkacamata hitam itu datang ketokonya, alih2 senang karena man in black rupanya tertarik dengan kerajinan peraknya itu, malahan man in black itu harus menyeret Desak supaya berurusan dengan WTO, urusan sama polisi aja udah eneg, apalagi urusan sama WTO.

Indonesia rupanya kecolongan lagi nih, satu lagi? mungkin saja 500 artefak bisa saja di-claim oleh bangsa asing, bahkan kata rolan ketua jaringan budaya indonesia (JBI) mungkin indonesia memiliki 1 juta lebih artefak. rupanya inilah modus penjajah gaya sekarang model baru, rapih terstruktur dan memiliki legitimasi hukum. padahal kita tidak perlu menggantungkan nasib kita kepada minyak, mengemis supaya diberi keringanan biaya import BBM siap pakai kepada bangsa asing, kalau kita bisa menjadikan cinderamata dan cultural goods menjadi satu komoditas kompetitif dalam perdagangan dunia, karena mau tidak mau, sepakat tidak sepakat kita akan terdorong ke arah sistem perekonomian dunia yang seperti itu.

mari bangkit Indonesia !!!!!!

24 Rekor Dunia yang sampai saat ini masih dipegang Indonesia
(Sebenarnya bukan negaranya yang bermasalah, tapi warga negaranya yang kadang bikin malu nama Indonesia… .)

Disamping beberapa kekurangan yang sering melekat di tanah air kita Indonesia, namun ada puluhan rekor dunia yang patut kita banggakan sebagai warga negara Indonesia karena sampai saat ini blom ada yang mampu memecahkan rekor tersebut dari Indonesia.

Berikut daftar 24 rekor dunia yang dimiliki Indonesia :

* Republik Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.504 pulau (termasuk 9.634 pulau yang belum diberi nama dan 6.000 pulau yang tidak berpenghuni) .

* Disini ada 3 dari 6 pulau terbesar didunia, yaitu : Kalimantan (pulau terbesar ketiga di dunia dgn luas 539.460 km2), Sumatera (473.606 km2) dan Papua (421.981 km2).

* Indonesia adalah Negara Maritim terbesar di dunia dengan perairan seluas 93 ribu km2 dan panjang pantai sekitar 81 ribu km2 atau hampir 25% panjang pantai di dunia.

* Pulau Jawa adalah pulau terpadat di dunia dimana sekitar 60% hampir penduduk Indonesia (sekitar 130 jt jiwa) tinggal di pulau yang luasnya hanya 7% dari seluruh wilayah RI.

* Indonesia merupakan Negara dengan suku bangsa yang terbanyak di dunia. Terdapat lebih dari 740 suku bangsa/etnis, dimana di Papua saja terdapat 270 suku.

* Negara dengan bahasa daerah yang terbanyak, yaitu, 583 bahasa dan dialek dari 67 bahasa induk yang digunakan berbagai suku bangsa di Indonesia . Bahasa nasional adalah bahasa Indonesia walaupun bahasa daerah dengan jumlah pemakai terbanyak di Indonesia adalah bahasa Jawa.

* Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia. Jumlah pemeluk agama Islam di Indonesia sekitar 216 juta jiwa atau 88% dari penduduk Indonesia . Juga memiliki jumlah masjid terbanyak dan Negara asal jamaah haji terbesar di dunia.

* Monumen Budha (candi) terbesar di dunia adalah Candi Borobudur di Jawa Tengah dengan tinggi 42 meter (10 tingkat) dan panjang relief lebih dari 1 km. Diperkirakan dibuat selama 40 tahun oleh Dinasti Syailendra pada masa kerajaan Mataram Kuno (750-850).

* Tempat ditemukannya manusia purba tertua di dunia, yaitu : Pithecanthropus Erectus’¬ yang diperkirakan berasal dari 1,8 juta tahun yang lalu.

* Republik Indonesia adalah Negara pertama yang lahir sesudah berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945. RI merupakan Negara ke 70 tertua di dunia.

* Indonesia adalah Negara pertama (hingga kini satu-satunya) yang pernah keluar dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pada tgl 7 Januari 1965. RI bergabung kembali ke dalam PBB pada tahun 1966.

* Tim bulutangkis Indonesia adalah yang terbanyak merebut lambang supremasi bulutangkis pria, Thomas Cup, yaitu sebanyak 13 x (pertama kali th 1958 & terakhir 2002).

* Indonesia adalah penghasil gas alam cair (LNG) terbesar di dunia (20% dari suplai seluruh dunia) juga produsen timah terbesar kedua.

* Indonesia menempati peringkat 1 dalam produk pertanian, yaitu : cengkeh (cloves) & pala (nutmeg), serta no.2 dalam karet alam (Natural Rubber) dan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil).

* Indonesia adalah pengekspor terbesar kayu lapis (plywood), yaitu sekitar 80% di pasar dunia.

* Terumbu Karang (Coral Reef) Indonesia adalah yang terkaya (18% dari total dunia).

* Indonesia memiliki species ikan hiu terbanyak didunia yaitu 150 species.

* Biodiversity Anggrek terbesar didunia : 6 ribu jenis anggrek, mulai dari yang terbesar (Anggrek Macan atau Grammatophyllum Speciosum) sampai yang terkecil (Taeniophyllum, yang tidak berdaun), termasuk Anggrek Hitam yang langka dan hanya terdapat di Papua.

* Memiliki hutan bakau terbesar di dunia. Tanaman ini bermanfaat ntuk mencegah pengikisan air laut/abrasi.

* Binatang purba yang masih hidup : Komodo yang hanya terdapat di pulau Komodo, NTT adalah kadal terbesar di dunia. Panjangnya bias mencapai 3 meter dan beratnya 90 kg.

* Rafflesia Arnoldi yang tumbuh di Sumatera adalah bunga terbesar di dunia. Ketika bunganya mekar, diameternya mencapai 1 meter.

* Memiliki primata terkecil di dunia , yaitu Tarsier Pygmy (Tarsius Pumilus) atau disebut juga Tarsier Gunung yang panjangnya hanya 10 cm. Hewan ini hidupnya diatas pohon dan hanya terdapat di Pulau Sulawesi.

* Tempat ditemukannya ular terpanjang di dunia yaitu, Python Reticulates sepanjang 10 meter di Sulawesi.

* Ikan terkecil di dunia yang ditemukan baru-baru ini di rawa-rawa berlumpur Sumatera. Panjang 7,9 mm ketika dewasa atau kurang lebih sebesar nyamuk. Tubuh ikan ini transparan dan tidak mempunyai tulang kepala.

ada saat tertentu yang kadang tidak bisa dilihat saat kita menginjakan kaki dalam-dalam di “bapak” pertiwi ini…

setitik kehidupan kota

Buka bareng teman satu SMA, adalah momen nostalgia yang sangat amat dinantikan. Mungkin bisa saja bernostalgia dengan teman sebangku yang saling membantu dalam hal akademik, materiil, atau teman mabal, jajan bareng ke kantin sampai menjerumuskan ketua DKM mengisi waktu luang kelas dengan bermain kartu, mantan pacar yang dulu saling bertatapan mata dibangku masing-masing kemudian menjalin kasih seia-sekata kamu sayang aku dan aku sayang kamu, dan hanya sebatas itu saja. Masa indah SMA adalah masa yang belum mengenal. Belum mengenal kompleksnya hidup, tidak usah berpikir menjelimet untuk besok jajan apa, tidak perlu berpikir bagaimana ongkos saya besok untuk datang ke sekolah, bagaimana uang iuran SPP bulan depan, semuanya dihiasi oleh berbagai macam kemudahan.

Namun tidak untuk teman saya yang satu ini, seorang wanita bertubuh kecil, berwatak seperti lelaki dan yang pasti saya yakin hatinya masih selembut seorang wanita yang terlalu lemah untuk berhadapan dengan angkuh gedung-gedung perkotaan. Dengan tubuh kecilnya itu, ia memiliki semangat hidup yang tinggi, bahkan lepas memakai baju putih abu-abu, tidak usah banyak berpikir dia bekerja di pabrik dan beberapa waktu kemudian dia mencoba mengadu nasib di Jakarta. Jakarta adalah kota yang laing kejam, katanya.

Tidak banyak cerita, disaat lepas makan buka puasa bersama teman SMA di rumah yang jauh dari riuh kota itu, saya berbincang dengannya. Menanyakan bagaimana kehidupan di kota, seberapakah kejamnya. Mungkin dalam gambaran lingkungan kerjanya, saya pun kaget dan menolak mentah-mentah. Mungkin ritus budaya yang dulu ditanam dan tumbuh dalam keluarganya itu mulai saja berpudar. Kita dalam kehidupan sehari-hari bisa merasakan bagaimana kebudayaan sunda pada waktunya, begitu terasa dalam perjalanan hidup di bandung, tempat dia tumbuh dan berkembang. Di SMA, SMP bahkan kuliah. Namun dia tidak melanjutkan kuliah, dia langsung bekerja. Seks dan wanita, alcohol dan tempat dugem, adalah yang otomatis tersirat dalam waktu-waktu luang dari semua rutinitas kerja sehari-hari. Bukan untuk dia, namun rekan kerjanya terutama pria dan tidak sedikit wanita. Entah mengapa kehidupan kota yang begitu keras, materialistis, dan –mungkin saya bisa bilang- tidak ada nuraninya. Rutinitas kehidupan kota yang begitu membuat jengah, jenuh bahkan stress seakan-akan waktu luang adalah waktu dimana seluruh stress pekerjaan dilupakan benar-benar dan msa-masa pencarian dunia baru-dunia yang lepas semuanya dari rutinitas. Tuntutan hidup memang kejam, kejam disaat rutinitas tidak membuat manusia ter-reifikasi oleh keadaan kota. Kemudian nikah lintas agama, selain di kota besar-sebut sajalah Jakarta,masih menganggap hal seperti itu adalah yang hal terlarang. Terlarang akibat akumulasi sejarah, ritus dan keagamaan. Namun cara berpikir, lingkungan yang membentuk pola pikir dan budaya kota telah menuntun hal-hal semacam itu, seolah menjadi sangat ditoleransi. Sebuah scene kota yang penuh dengan logika berpikir yang setiap hari terasah, budaya “daerah” yang makin tidak mendapatkan tempat, bukanlah menjadi suatu hal yang aneh.

Ternyata itulah kota yang asing namun “ada”, hingga pada akhirnya memunculkan pertanyaan , sebenarnya semua itu untuk apa, dengan tidak melaksanakan hal itu toh kehidupan saya bisa berjalan baik-baik saja.

Nampaknya ada sesuatu yang tidak bisa dijangkau dari ritus budaya seperti itu. Saya tidak mendapat jawaban akan hal itu, namun bisa saja pertanyaan-pertanyaan itulah yang sebenarnya menjadi “titik celah” yang seharusnya secepatnya dijawab.

mencari petunjuk

Ya,,,itulah seorang pemuda yang hendak menyusuri hutan. Hutan adalah tempat yang paling misterius. Jalan yang tidak ada bekas tapaknya, ranting-ranting yang jatuh membawa kekhawatiran bilamana seekor serangga ganas siap hinggap di tubuh, padahal saya tidak bermaksud jahat, hanya meretas jalan. Kemudian rerumputan yang setinggi badan itu memendam seribu prasangka, ada sebuah tempat yang pasti, mungkin saja tempat yang beralur sama dari sejak kita memijakkan kaki pertama di hutan itu atau atau pun berganti tempat seraya ruang dan waktu ikut berubah bahkan mungkin semua tempat secara simultan pun berubah, tidak lagi dihutan

Setapak demi setapak, kaki yang lunglai ini menapak. Lelah oleh berbagai macam pertimbangan yang tanpa permisi masuk saja dalam alam dapur manusia yang namanya otak. Di dalamnya kita bisa saja memasaknya dengan bumbu logika, sistematis dan empiris atau dengan emosi, abstrak dan prasangka. Kadang bumbu itu bercampur aduk dan akhirnya hanya membuat bingung. Masa depan, cinta, hari ini, hari kemarin, besok, tahun depan, kamu, dia, saya, mereka, namun,,,,ya meringkuk sajalah sambil berpikir dan merenung, keesokkan harinya beraktivitas biasa kembali.

Sulit untuk mengambil semua rerumputan yang membuat penasaran, dan dihempaskan sebentarsambil memegangnya dan coba melihat apa yang ada dibalik itu, ternyata rumputnya terlalu tinggi. Untung saja saya membawa sebilah golok tumpul, ya lumayan tidak untuk menebas dan terpotong, cukup. Ya, yang terlihat jalan bercabang pepohonan yang rimbun, sedikit sekali ruang cahaya yang menembusnya. Sesekali meilihat kebelakang, semua jalan yang sudah diretas kembali tertutup oleh rerumputan yang elastis. Nampak sekali didepan, bekas orang berjalan dengan jalan yang sama, semua meninggalkan bekas tapak yang berbeda. Nampak jelas cabang yang satu dengan sol sepatu yang agak tegas, cabang kedua sol sepatu bukan sepatu gunung, dan yang ketiga masih samar entah sepatu entah sandal. Sejenak berpikir, dan aktivitas dapur otak berjalan kembali. Pertimbangan bekas sol sepatu yang menapak itu benar-benar menjadi masakan yang ingin dibuat, dirasakan dan dinikmati. Ya sudahlah saya berjalan saja ke cabang jalan yang bekas sol sepatu yang tegas itu. Berjalan lunglai, setapak semi setapak mengapa lebar jalannya semakin jauh semakin sempit dan membuat takut namun penasaran.

Akhirnya, spekulasi terlalu cepat, dan mulai menerobos sajalah kepada rerumputan yang meringkuk melintang jalan setapak itu. Duri, bunga tanaman aneh namun tidak asing itulah pemandangan yang hinggap dalam visualisasi saat itu. Masih takut dan penasaran. Mulailah gundah seketika. Duduk sejenak, dalan ruang hutan yang agak sempit saat itu dan akhirnya saya pun lupa satu hal. Agaknya ini terlalu terlambat untuk memutuskan pada saat ini meretas jalan saat pertama kali ingin menjelajah, sebenarnya tempat yang saya tuju itu seperti apa. Pertanyaan yang sempat terlupakan kadang membuat semuanya jadi berantakan. Akhirnya saya tidak menemukan jawaban dari duduk saya yang berjam-jam dalam hutan itu. Jejak Sol sepatu itu tidak bisa membuat niat yang bulat kemudian membesar membesar dan akhirnya bisa membuat saya bangkit dari duduk saya yang nyaman itu. Saya hanya sendiri, kamu hanya sendiri, entah kebersamaan pada batas tertentu pun akhirnya kembali pada individualitas masing-masing. Saya, rumput dan dedaunan itu seakan bersama. Namun itu bukanlah petunjuk yang terang atas sebuah perjalanan.