Lebaran, ya saat-saat itulah uang berputar dalam pusaran yang sangat besar, ya sebuah ritus perputaran uang sebagai kompensasi jerih payah bekerja di kota besar, menyenangkan keluarga, memeprkokoh eksistensi kesuksesan seorang perantau yang mengadu nasib di perkotaan. Puasa kita jauh dari asketis, maklumlah kita hidup di kota, dan semua suasana pun dibuat hal puasa yang begitu ritual, dan hanya sebatas itu…..saya pun masih saja menunggu kompensasi, sebuah surat pendek saja, dari sang pencipta, yaitu satu titik pemaknaan dalam puasa tahun ini….namun saya akhirnya mendapat sebuah realitas, tidak saat-saat puasa,-maklum puasa sama halnya dengan rutinitas biasa saja-, namun saat perjalanan pulang mudik.
Bagi saya, mudik lebaran tanpa sebuah perjalanan yang mengesalkan, melelahkan, kuranglah lengkap. Ya sebuha perjalan mudik ke luar kota, disaat itulah saya melihat realitas, benar-benar realitas, pada khususnya mungkin hasil komparasi dengan realitas kota. Setelah berisitirahat di yogya, kemudian saya melanjutkan perjalanan menuju bandung setelah berlebaran di Surabaya, jalan menuju jawa barat, terberitakan macet total, hingga akhirnya kami memilih untuk sedikit memutar agak jauh melewati daerah paling selatan jawa tengah, sayang saya lupa nama kotanya. Ruas jalan hanya cukup untuk dua mobil dengan arah arus yang berbeda, suasana kering, sebelah kanan pemukiman penduduk yang sangat khas dengan rumah adat jawa, mungkin mirip dengan rumah joglo. Sebelah kanan padang kering, dengan rerumputan yang malas berjuang untuk hidup karena tidak ada sedikitpun warna hijau menghiasinya. Ya retakan bahkan patahan pada pesawahan, mungkin lebih tepat saya katakan menjadi ladang yang hampir mati. Dan saya yakin,alih-alih untuk melihat masa depan anaknya, untuk besok makan apa, sumbernya ya di depan rumahnya itu, ladang tanpa harapan, tandus. Tak ingin terhanyut dalam perasaan melakolis, akhirnya saya mengalihkan pandangan ke pemukiman, hmm…..tampak pengaruh kota pun akhirnya sampai pada pelosok daerah itu, minimal dari cara berpakaiannyalah, dan satu lagi sinyal HP saya penuh,,,,
Yang menarik perhatian adalah anak-anak lecil yang melambaikan tangan karena mungki merasa senang melihat mobil bagus melintasi kampungnya. Namun aku hanya melihat dari kaca jendela mobil. Senyum polosnya terlihat sekali belum pernah termakan sakit hati betapa beratnya hidup ini yang semakin jauh dari kesejahteraan, matanya memancarkan cahaya polos yang begitu tulus, tak tahu mereka sakitnya ketulusan dibalas dengan kekejaman bajingan, ya itulah kesan yang saya tangkap dari sosok anak kecil polos itu.
Lantas aku bertanya dalam hati, apakah anak-anak polos itu punya harapan akan masa depan?
mulih nang di, mas haru??
aku juga pulang… 3 jam di tol kanci, dan pas balik 5 jam di tol cikampek..
menurutmu har, apakah semua orang harus jadi sekolah dan jangan jadi petani lagi? apakah semua orang baiknya jangan jadi tukang lagi?
sodara jauhku ga mau sekolah karena pingin jadi tukang aja. itu jadi bahan omongan. itu salah ga?
apa karena sekolah yang kita tahu cuma sekolah yang bisa bikin orang kerja di kantor pake jas dan pake mobil?? kita juga butuh petani pinter kan?